Kamis, 07 April 2011

Apa Saja sih Fenomena Pendidikan yang Terjadi di Indonesia?

Fenomena 1 : Guru harus mempelajari psikologi pendidikan.
Bukan tanpa sebab, karena yang dipelajari di psikologi pendidikan itu sendiri tidak hanya cara belajar saja tapi juga cara berinteraksi dengan siswa , cara pencapaian tujuan pendidikan yg diberikan sesuai dgn psikologis siswa, dan cara memilih teori belajar untuk siswa. Dari artikel tersebut, kita dapat melihat kembali ke fenomena yang terjadi di Indonesia sendiri dimana kebanyakan guru tidak mempelajari psikologi pendidikan sehingga tujuan guru tersebut dalam melakukan kewajibannya pun menjadi kurang efektif.
             Dalam buku J.W. Santrock dijelaskan bahwa guru membutuhkan dua hal utama , yaitu pengetahuan dan keahlian professional serta komitmen dan motivasi. Berlaku juga pengkondisian operan dalam hal ini. Guru dapat menerapkan positive reinforcement, negative reinforcement dan punishment dalam proses pengajaran. 
            Sebagai contoh:
v  Positive reinforcement = ketika murid mengajukan pertanyaan yg bagus lalu guru memujinya dan kedepannya murid akan lebih banyak bertanya.
v  Negative reinforcement =murid menyerahkan pr tepat waktu dan guru pun akan berhenti menegur sehingga murid makin sering menyerahkan pr tepat waktu.
v  Punishment=murid menyela guru lalu guru menegurnya dan murid itu akan berhenti menyela

Fenomena 2 : Fenomena bunuh diri dan psikologi keluarga
Bunuh diri menduduki posisi ketiga penyebab kematian di kalangan remaja. Masalahnya, remaja dan orangtua menganggap remeh masalah ini dan meyakini tidak akan terjadi pada keluarga mereka. Mereka menemukan bahwa orang dan remaja mampu mengidentifikasi penyebab utama bunuh diri ini, seperti depresi, pengaruh minuman keras, penggunaan obat terlarang, dan problematika hubungan pertemanan remaja.
Tanpa bermaksud deskriminasi, keluarga broken home lebih rentang terhadap penyelewengan sosial. Psikologi keluarga yang dibentuk keluarga di rumah kacau. Keributan antarorang tua, kekerasan suami pada istri, hingga suasana di rumah mencekam. Maka, anak yang terbentuk dalam keluargabroken home berpotensi mengalami stress lebih tinggi.
Pada dasarnya orangtua ingin mengetahui lebih banyak untuk mengidentifikasi perilaku nekat anak yang ingin melakukan bunuh diri seperti apa cirinya, dan bagaimana menolong mereka. Dalam hal ini, Schwartz mengatakan, dokter anak dapat berperan penting menangani fenomena tersebut, dengan secara teratur melakukan pemeriksaan terhadap anak-anak dan remaja yang tengah depresi atau masalah kejiwaan lain yang membuat mereka dalam bahaya.
Diana Baumrind (1971, 1996), seorang pakar parenting, berpendapat bahwa ada cara terbaik mengasuh anak. Ada empat bentuk gaya pengasuhan atau parenting, yaitu :
1.       Authoritarian parenting
Gaya asuh yang membatasi dan menghukum dimana hanya ada sedikit percakapan antara orang tua dan murid dapat menghasilkan anak yang tidak kompeten secara sosial.
2.      Authoritative parenting
Gaya asuh positif yang mendorong anak untuk independen tapi masih membatasi dan mengontrol tindakan mereka sehingga menghasilkan anak yang kompeten secara sosial.
3.       Neglectful parenting
Gaya asuh dimana orang tua tidak peduli atau orang tua hanya meluangkan sedikit waktu dengan anak anaknya dan menghasilkan anak anak yang tidak kompeten secara sosial.
4.      Indulgent paarenting
Gaya asuh dimana orang tua terlibat aktif tetapi hanyasedikit memberi batasan atau kekangan pada perilaku anak dan menghasilkan anak yang tidak kompeten secara sosial.
Adapun psikolog Tika Bisono mengatakan, fenomena bunuh diri pada anak-anak di bawah umur dipicu beberapa faktor. Entah itu karena tekanan dari orangtua, lingkungan bermain, ataupun karena dorongan untuk memiliki sesuatu tidak terpenuhi.

Fenomena 3 : Pendidikan seks bagi pelajar
Fenomena yang saya dapat dari jurnal ini adalah dewasa ini para pelajar sangat akrab dengan sex bebas serta video porno yang juga sudah menjadi hal yang tidak asing bagi mereka terutama di indonesia. Supaya hal ini tidak menjadi hal yg semakin mengancam moral remaja diperlukan pendidikan seksual di sekolah.
Seperti seminar, konseling, dan sejenisnya.Hal ini dirancang sebagai alat kontrol remaja akan bahaya sex.Para pendidik sangat berperan aktif dalam pendidikan sex miasalnya dengan memberikan materi-materi mengenai pendidikan sex di sekolah-sekolah.Jangan ada rasa tabu ataupun risih dalam membahas mengenai pendidikan sex sebab sudah seharusnya anak-anak sejak dini diperingatkan bahaya sex bebas tersebut.Hal terbaru yang saya dengar tentang pendidikan sex anak-anak wanita di suatu sekolah terkemuka di jakarta harus menjalani tes keperawanan ketika ingin masuk ke sekolah tersebut,Hal ini saya rasa adalah suatu terobosan baru yang baik untuk memberantas sex bebas.
Teori psikologi bimbingan sekolah yang bisa saya kaitkan dengan jurnal tersebut adalah teori konstruktivisme yaitu pendekatan pembelajaran yang menekankan agar individu secara aktif membangun pemahaman dan pengetahuan tentang sesuatu hal.Dimana pendidikan seksual harus diberikan kepada remaja agar mereka bisa membangun pemahaman dan pengetahuan tentang sex agar mereka tidak keliru dalam hal ini.Pendidikan sex jangan dijadikan sebagai hal yg sepele krn bila terjadi kesalahan informasi di tahap ini remaja malah akan terjerumus kedalamnya.Sebaiknya para anak-anak diberikan pemahaman langsung dari pendidik agar mereka tidak salah informasi dan mendapatkannya dari orang-orang yang salah sehingga akhirnya malah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Daftar pustaka :
Santrock, John W. 2007. Psikologi Pendidikan 2nd ed. Jakarta : Kencana Prenada Media Group

1 komentar: